Intelektualisme agama
Penulis: Prof. Dr. Media Zainul Bahri, Guru Besar Pemikiran Islam UIN Jakarta
Di akhir abad 19, Max Weber, melalui Sosiologi Agama, punya beberapa tesis, diantaranya dua tesis di bawah ini:
Tesis Pertama, pemahaman, tafsir dan tujuan agama-agama, yang bukan agama-agama kuno, banyak sekali dipengaruhi oleh para politisi, tetapi terutama oleh Intelektual/cendekiawan agama (sarjana dan tokoh agama). Jamaah awamiyah (orang-orang awam) ikut aja apa kata sarjana dan tokoh (ulama) agama.
Tetapi, karena sebagian sarjana atau ulama dan tokoh agama punya pengalaman belajar filsafat dan ilmu pengetahuan sekuler lainnya, maka mereka tidak puas hanya menganut “agama formal/agama resmi”. Mereka menafsirkan ulang agama secara kritis dan liberal, tetapi mereka “tidak pernah keluar dari agama”. Sekali lagi, di antara intelektual dan sarjana agama itu ada yang kritis terhadap agama formal, tetapi mereka tetap menganut agama itu, tidak murtad.
Intelektual agama yang kritis terhadap agama umumnya ada dua kelompok. Pertama, orang/kelompok yang mengkritik “perilaku orang beragama”. Fokusnya kepada paham, sikap, dan perilaku orang beragama, bukan pada ajaran agamanya. Kita sering menemukan kelompok pertama ini, apakah di fesbuk, youtube, atau di buku-buku. Model kritik ini dianggap wajar atau biasa aja.
Kedua, orang beragama/kelompok keagamaan yang mengkritik “ajaran agama” atau “dogma agama” atau “doktrin agama”. Kritik mereka langsung kepada ajaran agamanya, karena perilaku beragama sumbernya ya memang dari ajaran agama. Misalnya kritik terhadap cerita-cerita, kisah atau dongeng-dongeng dalam agama yang tidak masuk akal.
Dalam Islam misalnya, konon seorang sarjana Muslim, Abu Bakar Ar-Razi yang hidup di abad ke-10 Masehi (tahun 925 atau 935) adalah “pengkritik pedas” dogma agama. Abu Bakar Ar-Razi (bukan Fakhruddin Ar-Razi) adalah seorang dokter dan ahli kimia yang mendalami teologi dan filsafat. Ia sering disebut sebagai “pemikir bebas” di masa Abbasiyah. Ia tetap percaya kepada Allah SWT versi Islam, tetapi ia mengistimewakan nalar. Nalar, kata Ar-Razi, “seharusnya mengatur bukan diatur, seharusnya mengendalikan dan bukan dikendalikan, seharusnya memimpin dan bukan dipimpin”.
Ar-Razi mengkritik dua hal pokok dalam agama-agama, bukan hanya Islam. Pertama, mengapa Tuhan harus menurunkan seorang nabi. Itu sikap diskriminatif terhadap manusia. Ada nabi-nabi yang diistimewakan untuk diikuti dan disembah-sembah, padahal menurut hikmah-ketuhanan, menurut Ar-Razi, semua manusia sama, sama-sama punya potensi, sama-sama pintar hanya soal latihan dan pengembangan saja. Dengan adanya nabi, menurut Ar-Razi, seolah-olah ada orang pintar dan istimewa (nabi) mengajari orang-orang bodoh (umatnya). Dan gara-gara ada nabi ini, umat beragama terus bertikai dan berperang, kata Ar-Razi. Karena itu nabi tidak perlu diikuti, apalagi kalau orang sudah pintar semua, buat apa mengikuti nabi-nabi, orang-orang berjanggut dan berjubah? Tidak perlu, kata Ar-Razi
Kedua, Ar-Razi mengkritik kitab suci, terutama al-Qur’an. “Al-Qur’an isinya dongeng-dongeng (khurafat) orang-orang tua dahulu”, kata Ar-Razi. Lagipula banyak isi Al-Qur’an kontradiksi satu sama lain. Misalnya ajaran para nabi. Kalau memang para nabi itu dari Allah yang sama, kata Ar-Razi, mengapa syariat nabi Ibrahim, Musa, Daud, Sulaiman, Nuh, Isa dan nabi Muhammad kontradiksi/bertentangan satu sama lain?
Ar-Razi juga menolak kemukjizatan al-Qur’an. Kata Ar-Razi, jika Al-Qur’an menantang manusia untuk mendatangkan ayat-ayat atau kitab suci yang serupa atau dapat mengalahkan al-Qur’an, maka jawaban Ar-Razi adalah: “Gampang saja. Gimana kalau tantangannya kita balik: bisa gak Tuhan membuat buku seperti Almagest dan Ptolemy tentang astronomi dan alam semesta? Atau membuat buku Euclid tentang ilmu geometri?”
Kalau Ar-Razi hidup di abad 19 mungkin atau kira-kira tantangan yang ia ajukan: “Bisa gak Tuhan membuat buku The Origin of Species karya Darwin yang sangat detail dan empiris tentang evolusi makhluk hidup atau membuat Das Kapital karya Marx yang teori-teorinya abadi sampai kini?”
Menurut Ar-Razi, buku-buku babon tentang kedokteran dan ilmu pengetahuan jauh lebih bermanfaat daripada Al-Qur’an yang isinya penuh kontradiksi, dongeng-dongeng dan membuat orang bertikai.
Kritik Ar-Razi ini luar biasa bikin marah banyak orang Islam.
Ia dibenci, dimusuhi dan dikecam. Ada sarjana yang menyatakan bahwa Ar-Razi tidak pernah berpendapat seperti di atas. Ar-Razi tetap muslim. Chase Robinson menyebutnya sebagai seorang “avant la lettre teis” di tengah dunia yang dipenjara oleh fanatisme dogma agama. Tetapi yang percaya bahwa semua pendapat di atas keluar dari mulut Ar-Razi, seperti Al-Biruni misalnya, Al-Biruni menyebut Ar-Razi sebagai “Si Kafir tengik”, dan bukunya, Makhariqul Anbiya karya Ar-Razi, oleh Al-Biruni dilarang beredar.
Tetapi literatur umumnya menyebut Ar-razi sebagai muslim yang tetap percaya kepada Allah SWT (Subhanahu wa Ta’alaa penting ditekankan karena ia percaya dengan keagungan Allah), tapi yaa katakanlah “muslim minimalis”. Meski demikian, sumbangan Ar-Razi dalam ilmu kedokteran luar biasa. Sebagai dokter yang praktik di RS Baghdad, konon Ar-Razi adalah orang pertama di abad 10 Masehi yang membuat penjelasan penyakit cacar dan campak. Ia juga ilmuwan muslim pertama yang menulis tentang alergi dan imunologi dan ilmuwan pertama yang menemukan penyakit alergi asma. Ar-Razi juga adalah ilmuwan pertama yang menjelaskan demam sebagai mekanisme tubuh untuk melindungi diri, dan masih banyak lagi karya-karyanya. Sebagai dokter dan ilmuwan dia hebat.
Tesis kedua Weber, kelompok intelektual dan cendekiawan pada agama-agama (meskipun tidak semua agama), yang memang belajar filsafat dan ilmu pengetahuan, sepanjang hidup mereka senang banged “mencari makna”. Apa saja fenomena dalam hidup dan kehidupan keagamaan mau dicari maknanya, lalu membuat penjelasan. Kelompok ini tidak terlalu menekankan berkah dan keselamatan.
Hal ini berbeda dengan orang-orang awam dan pekerja rendahan, kata Weber. Melalui agama, mereka ingin mencari berkah dan keselamatan (blessing and salvation). Orang awam atau kebanyakan orang umumnya tidak mau pusing mencari-cari makna. Yang penting hidup di dunia “penuh berkah” dan nanti mati “selamat di akhirat”.
Jadi kalau ulama memberi ceramah kepada orang-orang kebanyakan, jangan banyak bicara soal “makna-makna filosofis, sosiologis atau antropologis”, hal itu cuma bikin kening jamaah mengkerut saja, dan sang ulama tidak akan laku menjadi penceramah. Ceramahlah tentang berkah hidup dan keselamatan.
Tetapi, apa benar kelompok kelas menengah ke bawah tidak suka mendengar ceramah agama yang “penuh makna”? Bagaimana kalau disampaikan dengan bahasa yang bisa mereka pahami? Dan apa benar kelompok elit-intelektual tidak suka mendiskusikan soal blessing dan salvation? Weber memang sosiolog dunia yang hebat. Ia adalah salah satu Raksasa. Tapi banyak sarjana kini menuntut Tesis-tesis Weber harus ditelaah ulang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *