Penulis: Prof. Dr. Media Zainul Bahri, Guru Besar Pemikiran Islam UIN Jakarta
F. Wawan Setiadi, mahasiswa doktoral filsafat di Centre Sèvres, Paris, menulis kisah yang sangat menyentuh tentang persahabatan dua filusuf besar Prancis: Albert Camus (1913-1960) dan Jean Paul Sartre (1905-1980), sekaligus perpisahan mereka.
Menurut Wawan, Camus dan Sartre hidup pada periode suburnya eksistensialisme Prancis pascaperang, ketika menulis buku filsafat dan sekaligus menghasilkan karya sastra adalah hal yang lumrah dilakukan oleh para pemikir. Mereka berdua saling mengagumi.
Pada Oktober 1938, Camus membaca roman Sartre La Nausée (Muak) dan membuat ulasan atas roman itu di koran progresif Alger républicain. Sebaliknya, pada September 1942, Sartre menulis ulasan sepanjang 20 halaman tentang karya Camus roman L’étranger (orang asing). Ulasan Satre itu dimuat di jurnal Cashiers du Sud pada Februari 1943. Selain membuat catatan kritis dari sisi filsafat, Sartre juga memuji keterampilan Camus dalam membuat konstruksi L’étranger.
Akhirnya dua satrawan raksasa ini bertemu pada Juni 1943. Mereka cepat menjadi akrab, meskipun memiliki latar belakang yang berbeda. Camus berasal dari keluarga pekerja di Aljazair. Ia sekolah dengan beasiswa dan memperoleh gelar master filsafat. Sementara Sartre berasal dari keluarga borjuis Paris dan hidup di dalam kultur klasik. Ia belajar filsafat dan mendapatkan gelar agrégé di sekolah prestisius Ecole Normale Supérieure.
Sebenarnya, menurut Wawan, Sartre bukan tipe yang mudah berteman, tapi ia merasa cepat akrab dengan Camus yang 8 tahun lebih muda darinya. Sartre dan Camus sering nongkrong di Kafe Flore yang dijuluki Kafe Eksistensialis. Kadang mereka nongkrong di Kafe Les Deux Magots. Pada periode suburnya eksistensialisme Prancis, di kedua Kafe itulah sering berkumpul para pemikir, sastrawan, penulis, dan artis.
Keakraban antara kedua pemikir itu, menurut Wawan, sampai membuat cemburu Simone de Beauvoir, partner hidup Sartre. Simone khawatir Sartre menjadi terlalu akrab dengan Camus.
Persahabatan mereka perlahan berubah menjadi konflik akibat perbedaan pandangan politik saat itu. Sartre berada di posisi komunis; ia mendukung blok timur, Stalinisme. Sementara Camus berdiri sebagai antikomunisme. Pada akhir 1946, Camus menjauh dari marxisme dan eksistensialisme Sartrian dan mulai mengembangkan gagasan sendiri soal relasi antara absurditas dan pemberontakan.
Konflik mereka berdua memuncak ketika karya Camus, L’homme révolté (manusia pemberontak) terbit pada 1951. Buku ini dipersembahkan untuk mantan gurunya, Jean Grenier. Sebelum buku itu terbit Grenier telah membaca naskahnya dan mengatakan kepada mantan muridnya bahwa buku itu akan mengundang banyak musuh.
Kalimat pertama dari bab pertama buku tersebut merumuskan apa itu manusia pemberontak. Camus menulis, “Apa itu manusia pemberontak? Seorang manusia yang mengatakan tidak. Namun, jika ia menolak bukan berarti ia meninggalkan; ia juga seorang manusia yang mengatakan ya, sejak gerakan pertamanya. Seorang budak, yang sepanjang hidupnya menerima perintah tiba-tiba menilai bahwa perintah baru sudah tidak dapat lagi diterima.”
Rupanya, menurut Wawan, analisis sejarah patologi pemberontakan dalam buku L’homme révolté memancing banyak polemik. Selain menerima pujian, seperti dari filsuf sosial Hannah Arendt yang saat itu sudah tinggal di Amerika Serikat, Camus juga menerima banyak kritik, baik dari pemikir kiri maupun kanan.
Salah satu kritik atas buku itu adalah polemik yang mengakhiri persahabatannya dengan Sartre. Kritik di awali dengan kritik yang sangat keras yang ditulis Francis Jeanson di jurnal Les Temps Modernes pada April 1952. Kritik itu dijawab oleh Camus dengan surat terbuka yang ditujukan kepada Direktur jurnal itu, yakni Sartre, sahabatnya sendiri.
Saling serang keduanya melalui tulisan semakin memanas. Sartre menganggap persahabat mereka telah bubar. Sartre mengkritik Camus baik sebagai pribadi (ad hominem) maupun sebagai pemikir yang tidak kompeten. Sartre mengolok-olok Camus yang katanya anti komunis padahal ia adalah Borjuis seperti dirinya dan Francis Jeanson. Sartre memang berasal dari kalangan borjuis, tetapi ia mengambil jarak pada borjuasi. Menurut Sartre, argumentasi Camus tidak tepat dan pemikirannya tidak jelas dan banal. Di akhir tulisannya Sartre mengatakan bahwa Camus berubah menjadi teroris dan keras-kasar (violent) ketika sejarah yang ditolaknya ganti menolaknya.
Setelah polemik tersebut, menurut Wawan, kedua pemikir ini bungkam dan tidak pernah lagi bertemu. Camus merasa bahwa sebagian besar ulasan dan kritik dari Sartre dan Jeanson seperti penghinaan bagi dirinya. Camus merasa mereka berdua menunjukkan kebencian, kebencian yang mungkin telah lama terpendam. Camus juga merasa bahwa ia dan Sartre tidak pernah benar-benar menjadi teman dan sahabat.
Polemik mereka akhirnya benar-benar berakhir ketika pada Senin, 14 Januari 1960, mobil yang ditumpangi Camus mengalami kecelakaan di Villeblevin, Tenggara Paris. Camus meninggal saat itu juga pada usia 47 tahun. Tiga hari setelah peristiwa naas itu, 17 Januari 1960, dalam catatan Wawan, Sartre menulis euloginya bagi Camus di koran French-Observateur. Dalam artikel yang pendek itu Sartre menyampaikan penghargaannya terhadap Camus. Tentu saja Sartre menyebut polemik dan perpisahan yang dialami mereka berdua, “Kami berselisih, ia dan saya: sebuah perselisihan bukan hal remeh tanpa arti. Kami tidak pernah bertemu lagi, mungkin ia adalah sebuah cara lain untuk hidup bersama.”
Tapi kalimat yang paling menyentuh yang ditulis oleh Sartre di Les Temps Modernes pada Agustus 1952 saat perpecahan antara keduanya memuncak, Sartre menulis, seperti ditulis Wawan: “Camus terkasih, persahabatan kita tidaklah berjalan mudah tapi saya akan merindukannya. Jika engkau menyudahinya saat ini, rupanya memang begitu mesti terjadi. Ada banyak hal yang membuat dekat; sedikit saja yang membuat kita terpisah. Tapi, apa yang sedikit itu ternyata sudah terlalu banyak.” (Lihat Majalah Basis, No. 07-08, Tahun ke-70, 2021).
Kisah persahabatan mengharukan di antara tokoh-tokoh besar juga terjadi dalam sejarah “pembentukan” negeri ini. Dulu, Tan Malaka (tokoh komunis), Wahid Hasyim (Tokoh Islam-NU), I.J. Kasimo (Tokoh katolik), dan Prawoto Mangkusasmito (Tokoh Masyumi) adalah “sahabat” dalam perbedaan dan perdebatan. Mereka sering berdebat panas soal bentuk negara ini. Prawoto terkenal gigih, dalam debat-debatnya, menginginkan “negara Islam” karena mayoritas penduduk negeri ini adalah muslim. Tentu saja, Katolik menolak, Tan Malaka menolak, Wahid Hasyim juga menolak ide “negara Islam”.
Tapi perdebatan adalah perdebatan, dan pertemanan adalah pertemanan, lain lagi. Sebagaimana diceritakan Gus Dur, saat kecil ia diajak ayahnya, Wahid Hasyim, ke rumah I.J. Kasimo untuk menyerahkan amplop besar. Amplop itu berisi uang, dan Wahid Hasyim minta kepada Mr. Kasimo untuk menambahkan uang ke dalam amplop itu, untuk kemudian diberikan kepada Prawoto Mangkusasmito untuk membangun rumah.
Rupanya sebagai tokoh besar Masyumi, Prawoto belum memiliki rumah. Jadi, menurut kisah itu, Tan Malaka, Wahid Hasyim dan Kasimo “urunan” mengumpulkan uang untuk diberikan kepada teman mereka, Prawoto, untuk membangun rumah.
Kata Sobari, budayawan yang nyentrik itu, “inilah zaman besar”, yang diisi oleh tokoh-tokoh nasionalis-besar, yang melahirkan “pikiran dan ide-ide besar”. Kita merindukan “zaman besar” itu.
Apakah model persahabatan tokoh-tokoh besar di atas masih ada di zaman kini?

