Penulis: Sunardian Wirodono, Penulis Lepas Tinggal di Yogyakarta
Kemarin saya tuliskan tentang menjadi moderat. Apa itu moderat? Tanya Kyai Translate bin Mbah Google Joyomenggolo alias Google terjemah. Sudah ketemu? Saya teruskan,… tapi kalau belum ketemu, saya tunggu.
Baiklah. Anggap sudah ketemu. Bagi saya yang dhaif, cerita paling mengesankan, jika benar adanya, ialah pertanyaan salah satu pengikut Kanjeng Nabi Muhammad shallallahu’ alaihi wasallam; Apakah hal paling berat sebagai seorang nabi?
Jawaban Muhamad pendek saja, “Menjadi moderat!” Tentu saja tidak demikian bahasanya. Tapi ini bukan kutbah bahasa Arab. Ini sekedar contoh latihan bagi kita, untuk moderat dalam mempelajari substansi nilai. Dan menghindari perdebatan semantik yang tidak produktif, apalagi pengalihan tema.
Sesungguhnya, menjadi moderat tidaklah berat. Itu kesimpulan saya yang bukan nabi. Karena jika saya mengaku nabi, mungkin nomor 27 setelah Paul Zhang. Masalahnya saya tak suka nomor itu. Mendingan 69! Menjadi moderat itu gampang, sekiranya manusia tidak mementingkan kepentingan. Entah itu kepentingannya maupun bukan kepentingannya tapi tetap berbentuk kepentingan.
Nah, disitu kehebatan Muhammad. Memadukan dua hal; Kepentingan dan Moderat. Tidak sebagaimana kita, yang memandang bahwa kepentingan dan moderat itu dua hal. Dua hal yang berbeda pula. Sedangkan Muhammad sudah memilih, menetapkan dan melaksanakan; Kepentingan dan moderat itu satu, menjadi kepentingan (untuk) moderat.
Kepentingan (untuk) moderat itu yang berat, bagi banyak manusia yang mengaku sebagai pengikut nabi. Bukan hanya yang awam. Dari wapres, waket MUI, para ulama, ustadz, kita bisa deretkan siapa saja, yang masih membedakan kepentingan dan moderat sebagai dua hal. Saya tak berani menyebut nama, nanti dikira sok kenal. Sebut saja ‘tertentu’, karena kalau nyebut ‘terkentu’ kita dituding jorok, dan jorok itu tidak akademik, tidak intelektual.
Soal larangan mudik saja, wapres minta dispensasi untuk kaum santri. Soal Palestina, seorang waket MUI minta Indonesia memutus hubungan diplomatik dengan Israel. Padal bagaimana memutus hubungan yang tak pernah tersambung, karena Indonesia memang tak punya hubungan diplomatik? Kaum sufi pun akan menjadi orang normal mendengar hal ini.
Ada pula ustadz yang ngomong bahwa negara pendukung Indonesia merdeka (17 Agustus 1945), paling pertama kali; adalah Palestina. Dari sisi urutan waktu, Mesir negara yang pertama kali. Palestina memberikan pengakuan, tetapi tidak secara persis bisa disebut sebagai ‘negara’, karena yang menyatakan adalah seorang mufti besar di wilayah itu, dalam kaitan ikatan keagamaan. Negara Palestina dideklarasikan oleh PLO sebagai negara merdeka pada 15 November 1988. Dan Indonesia adalah pendukung pertama kemerdekaan Palestina, sejak Bung Karno belum jadi Presiden hingga jadi Presiden dan setelah tak jadi Presiden.
Itu pun tidak terlalu mengapa sebenarnya. Namun jika di pinggir jalan, ada relawan jihad membawa kotak bekas bungkus roti, dengan ditempeli tulisan “Save our Palestine!”, sedang di sampingnya menggelesot pengemis tua atau seorang ibu lusuh menggendong anaknya, itulah gambaran bagaimana kepentingan (untuk) moderat memang bukan hal mudah. Hingga semut di seberang bra tampak, sementara semut di balik yang nobra, malah kelihatan putingnya doang. Puting semut mangsudnya!
Mangkanya di sisi itu, dalam perkecamukan dan perkenyinyiran, begitu sedikit yang sudi memoderasi situasi ini. Jika bisa kita ributkan ngapain kita diemin? Bahkan sekedar mengingatkan untuk kembali ke akar gotong royong yang dikoar-koarkan gelora Bung Karno pun tak mudah. Ketika Bung Besar menganjurkan imajinasi, imajinasi, imajinasi, justeru John Lennon yang mengaku lebih popular dari Yesus, mendendangkan imagine; You may say I’m a dreamer,…!

