Kurang lebih sekitar satu dekade ini ramai sekali bahkan hampir menjadi sebuah trend kekinian masyarakat Madura umumnya dan Daerah Kabupaten Sumenep khususnya dimana mereka banyak berbondong-bondong mengadu nasib ke kota-kota besar di Indonesia, terlebih seperti ibu kota DKI Jakarta yang kini mulai menjamur bisnis buka warung sembako di beberapa tempat di Jakarta, saya mungkin salah satunya yang mulai coba adu nasib dengan bisnis jenis ini walau masih sekedar menjaga milik orang lain sembari mencari pengalaman demi pengalaman dengan usaha baru ini.
Untuk di Jawa Timur, kota Surabaya dan Malang masih menjadi prioritas utama warga Madura dalam mengais rezeki dengan bisnis membuka warung sembako sederhana yang melayani dan menyediakan bahan-bahan kebutuhan setiap hari warga sekitar, mulai dari bahan-bahan dapur untuk makanan dan minuman hingga kebutuhan-kebutuhan kecil lainnya, ada juga kebutuhan pendidikan secara sederhana semisal buku tulis dan alat tulis spidol, balpoint, pensil, penghapus, stype x, perangko, map, clips, lem dsb.
Sebagai seorang yang selalu jelalatan merantau kemana-mana dari mulai antar daerah, antar kota, antar propinsi hingga antar negara dengan beragam mata pencaharian atau jenis pekerjaan, bagi saya bisnis menjaga warung sembako ini adalah pengalaman sekaligus tantangan baru yang juga tak kalah banyak menguras dan menguji kesabaran dan ketabahan juga kekuatan mental dan stamina fisik yang harus melek tengah malam hingga pagi sebagai ciri khas warung-warung Madura yang mayoritas bukanya full 24 jam 7 hari seminggu (tanpa peduli hari libur atau nggak).
Kembali kepada ciri khas warung Madura, ada dua diantara yang paling khas dari warung Madura ini ialah:
Pertama, keberadaan atau penempatan barang-barang komoditi yang tidak beraturan alias menumpuk-numpuk nggak karuan tanpa peduli keindahan yang bisa menarik minat pelanggan atau pembeli (walau masih aja tetap ramai) namun ini terjadi di sebagian pemilik warung Madura, artinya tidak semua berantakan begitu, masih ada yang cerdik pandai cara menaruh dan menjejerkan barang-barang komoditinya.
Kedua, Rak tempat komoditi terbuat dari serap/papan kayu dan berciri khaskan “cat warna kuning”, entahlah saya juga tidak mengerti dengan filosofi “rak serap/papan kayu sekaligus bercat kuning ini” apakah ada nilai magis dan mitos keberuntungan sendiri, juga nggak faham saya, namun ini juga tidak semuanya didesain demikian sebab masih ada sebagian warung Madura yang saya jumpai tidak menggunakan cat kuning melainkan warna cokelat dan tidak pula menggunakan rak serap kayu melainkan etalasi besi.
Orang Madura itu kebanyakan suka akan tantangan dalam hal apapun khususnya dalam masalah bisnis, ya bisnis apapun itu, kadang dengan cara persaingan yang sehat dan benar sesuai kode etik perbisnisan namun juga tak jarang yang menggunakan cara banting setir dengan prinsip dan pedoman “yang penting meraup hasil/keuntungan” hingga juga tidak jarang yang berusaha menutup rezeki pebisnis lainnya hatta itu sesama orang Maduranya, apalagi dengan orang non Madura, tapi ini sekali lagi hanya sebagian, tak serta merta semuanya berprilaku begitu.
Sebagai kota besar, Jakarta tentu menjadi objek meraih dan meraup pundi-pundi rupiah dengan berbagai konsep usaha atau bisnis yang dirintis dan dikembangkan, tidak melulunya dari warga Madura saja, namun hampir seluruh daerah dan suku-suku di Indonesia bisa dijumpai di Jakarta ini tentu dengan berbagai motif dan pekerjaan yang variatif, tidak hanya dengan satu dua jenis pekerjaan saja, untuk pebisnis warung sembako ini khusus di daerah Jakarta Selatan, selain banyak digeluti oleh warga Madura, juga ada dari warga daerah lain yang bisnisnya tak kalah mentereng, diantaranya orang Bugis, Batak Medan, dan Minang Padang. Sementara suku-suku lainnya tidak terlalu dominan selain ketiga suku tersebut (Madura, Minang dan Bugis) ada tapi tidak seberapa.
Dari ciri khas warung Madura, mungkin tempat di saya ini adalah salah satu dari sekian banyak warung Madura yang mempunyai dua ciri khas diatas. Andaipun ada barang yang terlihat asing, aneh dan langka penampakannya, ya mungkin ini salah satu yang terunik dari yang unik, entahlah penampakan itu apa, intinya bukan untuk nakut-nakutin orang/pembeli, melainkan sedikit pencitraan haha haha haha.
Penulis: Muhammad Arief Junaydi

