Oleh Hamid Basyaib
Saya terkesan dan selalu ingat taksonomi Abu Hamid al Ghazali, ulama-filosof Persia abad 11, tentang jenis-jenis manusia dalam hubungannya dengan pengetahuan. Sudah terlalu lama saya baca itu entah di mana, sehingga yang saya ingat hanya garis besarnya.
Menurut Ghazali, dalam hubungannya dengan pengetahuan, hanya ada empat jenis manusia.
Pertama, orang yang tahu bahwa dirinya tahu. Orang semacam ini selain pintar juga bijaksana, mudah memaklumi, karena itu layak dijadikan guru.
Kedua, orang yang tahu bahwa dirinya tidak tahu. Orang seperti ini juga layak dijadikan guru karena selain pandai dia juga rendah hati, tahu-diri, dan mengerti batas-batas — kualitas terakhir ini sangat penting; apalagi di masa ketika semakin banyak orang yang melampaui batas dalam banyak hal.
Ketiga, orang yang tidak tahu bahwa dirinya tahu. Orang seperti ini perlu diingatkan tentang potensi-potensi besar yang ada di dalam dirinya; bahwa dia sesungguhnya sanggup meraih lebih daripada apa yang selama ini dia capai. Ringkasnya, kata Ghazali, orang semacam ini perlu dibangunkan, disadarkan.
Keempat, orang yang tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu. Inilah manusia paling celaka. Dampak perbuatan atau ucapannya bisa sangat jauh dan fatal. Dan biasanya jenis ini justeru yang paling bersemangat untuk berbuat atau berkata/menulis sesuatu — tentang apa saja. Dia tidak tahu ada risiko yang mengintai dalam ucapan atau perbuatannya. Jika diberi saran, biasanya mereka malah marah. Jika dilarang, biasanya melawan. Semua bersumber pada satu sebab: dia tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu.
Apakah ada manusia jenis ke 5? Tidak ada. Di sinilah observasi Ghazali terasa tajam dan brilian. Dia berhasil merangkum seluruh ciri manusia (sekali lagi: dalam hubungannya dengan pengetahuan) hanya dalam empat jenis saja, meskipun jumlah manusia sangat banyak dan variasi sifat dan sikapnya sangat beragam.
Perhatikanlah betapa banyak manusia jenis ke 4 itu di sekitar kita. Mereka merasa gagah dan heroik bicara apa saja, tanpa tahu ucapannya salah fakta atau, kalaupun faktanya benar, tidak mempertimbangkan banyak aspek/variabel lain yang patut diperhitungkan. Mereka tidak pernah tahu pula peringatan Ghazali yang dikemukakan sejak seribu tahun lalu.
Tentu yang perlu kita upayakan adalah jenis pertama. Jika tidak mampu, tak mengapa. Jenis kedua bisa diupayakan. Kalau tidak bisa, jenis ketiga pun lumayan; setidaknya bisa membuat kita rendah-hati, meski disayangkan karena potensi-potensi terbaik di dalam diri kita tidak diberi peluang untuk aktual.
Yang penting: jangan sampai kita menjadi manusia jenis ke-4. Dan kita perlu waspada terhadap kemungkinan tergelincir ke dalamnya. Sebab peluang ke arah sana selalu besar — seperti sangat banyak contoh yang kita lihat di sekeliling.
Berbuat atau bicara sekenanya, apalagi tentang orang-orang atau ide-ide besar, memang terasa memuaskan emosi, terlihat perkasa dan heroik. Tapi di balik segenap heroisme itu sebetulnya sering muncul hal yang menggelikan atau memalukan di mata manusia-manusia jenis pertama atau kedua.
Pengamatan ini bagi saya luar biasa, apalagi mengingat ia dirumuskan seribu tahun lalu, dengan gamblang dan tepat.
Semoga saya tidak termasuk jenis keempat, kalaupun sulit mencapai jenis pertama dan kedua, dan tidak sadar masuk jenis ketiga.

