Oleh: Iqbal Aji Daryono, Penulis Serbabisa, Tinggal di Yogyakarta
Sudah berkali-kali saya diminta ngajari public speaking. Mas Pandu Wijaya Saputra ini, Mbak Ni Luh Putu kalo gak salah, dan beberapa yang lain. Juragan kafe “yang itu” juga pernah nyeletuk minta saya ngisi materi gituan di kafenya.
Permintaan wali kafe jelas saya tolak. Alasannya, menurut saya tempat itu lebih cocok buat perbincangan epistemik yang berat-berat dan adiluhung sebangsa filsafat dan kabudayan alih-alih ilmu-ilmu teknis.
Adapun permintaan teman-teman yang lain juga saya tampik. Alasannya, saya gak tau teorinya hahaha. Persis dengan yang saya sampaikan ke Mas Pandu itu: saya ngomong ya ngomong aja.
Tetapi, saya kasih bocoran kecil. Saya ngomong di depan banyak orang baru mulai pertengahan 2018. Sebelum-sebelumnya, di Ostrali saya mau ceramah di depan siapa? Kardus-kardus paket kiriman barang?
Memang pada masa jauh sebelumnya, sekitar tahun 2008-2009, saya pernah punya anak buah waktu masih kerja di pabrik orang. Jadi harus mimpin rapat juga kadang-kadang. Tapi toh skalanya kecil saja, dan bisa dibayangkan obrolan seperti apa tuh di rapat-rapat tempat kerja.
Mundur lebih jauh lagi, pada masa kuliah, saya adalah satu di antara segelintir anak yang paling tidak bisa dan tidak berani berbicara. Kosong otaknya, kelu mulutnya. Tanya aja sama Mahfud Ikhwan dan Tarli Nugroho itu kalo gak percaya.
Tetapi kemudian selama 4 tahun terakhir ini saya punya banyak sekali kesempatan untuk bicara di hadapan banyak orang. Mulai dari puluhan, ratusan, hingga paling banyak 2.200 orang (gara-gara dikerjain Idham Choliq di Unmuh Surabaya).
Pertanyaannya, bagaimana saya bisa melakukannya?
Saya kasih tahu rahasianya: saya sangat terbantu dengan kebiasaan menulis. Jika terbiasa menulis, pikiran terlatih untuk terkonsep secara sistematis dan rapi. Kita juga akan terus terkondisi untuk menyajikan tuturan yang runtut, yang solid, dengan kalimat-kalimat yang mudah dipahami, dengan diksi alias pilihan-pilihan kata yang pas (dan kadang-kadang dramatis sesuai kebutuhan forum), serta diramu dengan ilustrasi-ilustrasi yang cakep.
Perhatikan baik-baik, semua itu ada dalam menulis, dan semua itu sangat dibutuhkan dalam public speaking. Dan saya pribadi sangat merasakannya dalam perjalanan 3 tahun terakhir.
Tentu saja saya tahu, tidak semua penulis mahir berbicara, sebagaimana tidak semua pembicara mahir menulis. Tapi khusus untuk penulis yang kurang terampil berbicara, saya perhatikan yang seperti itu sebenarnya hanya karena kurangnya dua unsur: artikulasi verbal (ini lebih pada bawaan–kurang mangap mulutnya, misalnya) dan kurangnya rasa percaya diri.
Itu saja. Selebihnya, tanpa bermaksud mengatakan bahwa semua pembicara harus menulis dulu, saya berani mengatakan bahwa segala kebutuhan untuk berbicara dengan baik akan sangat didukung oleh keterampilan dalam menulis.
Dalam feedback di kelas-kelas menulis saya pun, saya malah sangat jarang membahas secara khusus tentang PUEBI, misalnya, berbeda dengan dugaan banyak orang. Sepanjang tidak terlalu parah dan berlebihan, kaidah-kaidah semacam itu tidak terlalu saya gubris.
Yang paling saya tekankan selain kebaruan gagasan dan kualitas analisis atau refleksi adalah lo-gi-ka. Bagaimana menyodorkan ide secara logis, runtut, tidak bolong-bolong nalarnya, dan kadangkala saya sisipkan juga tentang estetika berbahasa.
Ketika terbiasa dengan logika, terbiasa ketat dalam cara berpikir sekaligus tertib dalam alur penyampaian pikiran, kita akan percaya diri dengan gagasan kita. Dan ketika percaya diri sudah diraih, berbicara tidak akan jadi masalah.
Maka, berkali-kali saya katakan, latihan menulis itu bukan cuma untuk menjadi penulis. Menulis itu lifeskill yang akan bisa meningkatkan kualitas hidup kita pada banyak sisi. Tak terkecuali dalam perkara berbicara.

