Oleh: Prof. Dr. Abad Badruzzaman, Guru Besar UIN SATU
Ini buku ketiga karya Kang Asep Salahudin yang saya punya. Dua buku sebelumnya: Sufisme Sunda: Hubungan Islam dan Budaya dalam Masyarakat Sunda, dan Kitab Tritangtu: Keislaman, Kesundaan, Keindonesiaan. Ulasan saya tentang keduanya sudah saya fesbukkan. Kali ini saya akan coba sedikit mengulas buku ketiga yang saya punya: Jatiniskala.
Satu kata menyatukan tiga buku tersebut, yaitu: Sunda. Pada Sufisme Sunda, Kang Asep memetakan hubungan Islam dan budaya dalam masyarakat Sunda. Seperti dapat diterka dari judulnya, pada masyarakat Sunda, Islam dan budaya berpadu secara akur oleh perekat sufistik dalam takaran yang memadai. Pada Tritangtu digambarkan bagaimana kesundaan berorkestrasi secara rancak dengan keislaman dan keindonesiaan menciptaan harmoni yang bukan cuma menawan tapi juga membanggakan. Kenapa membanggakan? Karena belum tentu semua bangsa mampu memetakan secara tuntas relasi antara nikai-nilai keagamaan dan pilar-pilar kebangsaan.
Pada Jatiniskala, Kang Asep, dengan kepiawaiannya yang khas, baik di ranah kemasan bahasa maupun di altar logika, menunjukkan seperangkat nilai dan nalar spiritualitas yang digali dari ranah kesundaan dan diperagakan dengan anggun oleh sejumlah “manusia Sunda”. Memang isi buku tidak melulu berisi nama tokoh yang dinilai paling memadai dalam melakonkan spiritualitas Sunda. Namun seluruh isinya memiliki satu tarikan nafas: spiritualitas manusia Sunda. Di sini saya akan “mengulas” tiga dari beberapa “manusia Sunda” yang diintrodusir Kang Asep dalam Jatiniskala. Abah Sepuh, Abah Anom, dan Hasan Mustapa. Itulah tiga nama “manusia Sunda” yang akan saya tunjukkan spiritualiasnya; spiritualitas mana sanggup meracik, lagi-lagi, kesundaan dan keislaman. Racikan ini, semoga saya tidak keliru, oleh Kang Asep disebut: Spiritualisme Manusia Sunda.
Abah Sepuh
Nama asli-lengkapnya: KH. Abdullah Mubarak bin Nur Muhammad. Abah Sepuh banyak menulis sajak Sunda kuna, antara lain berjudul: Ditilar. Saya kutipkan tiga baris terakhir dati Ditilar:
Sadayana wujud élmu, élmu sajatining hirup
Hirup sajatining rasa, jatining rasa taohid
Jamaliyah jalaliyah, hak sadaya mahluk Gusti
Sajak di atas antara lain menggambarkan “paras” Tuhan dalam identitas dualitas: jalaliyah dan jamaliyah; maskulinitas dan feminitas. Abah Sepuh menegaskan bahwa keduanya adalah “hak sadaya mahluk Gusti.” Tak ubahnya hak-hak lainnya yang akrab dengan manusia: untung-rugi, caang-poék (terang-gelap), beunghar-pakir (kaya-miskin), datang-pergi.
Namun dalam tarekat yang dikembangkannya, Abah Sepuh lebih memilih jalur jamaliyah. Jalur ini diyakini Abah Sepuh lebih mempresentasikan Islam sebagai jalan hidup yang jembar. Tidak heran jika pada gapura utama pesantren Suryalaya binaan Abah Sepuh tertera tulisan: “Kajembaran Rahmaniyyah”.
Kajembaran rumusan Abah Sepuh sebagai perasan dari jamaliyah-Nya adalah kajembaran yang menghargai keragaman, menanamkan sikap optimis dalam hidup, mewajibkan pembuktian ilmu dengan amal dan kejujuran, dan mengharuskan penjelmaan iman dalam etik imperatif serta awas dalam melihat berbagai hal. Kajembaran yang terus mencari kebenaran.
Abah Anom
Visi Kajembaran Rahmaniyah Abah Sepuh diteruskan dan dilestarikan oleh penerus beliau: Abah Anom (KH. A. Sohibul Wafa Tajul Arifin). Dalam Tanbih, salah satu karya Abah Anom, disebutkan bahwa kajembaran itu meliputi relasi agama dan negara, tertib sosial, dan penghargaan terhadap multikulturalisme.
Tentang relasi agama dan negara, Abah Anom berkata: “Éta dua-duanana kuwalaan sapantesna samistina, kudu kitu manusa anu tetep cicing dina kaimanan, tegesna tiasa ngawujudkeun karumasaan terhadep agama jeung nagara, taat ka hadorot Ilahi nu ngabuktikeun paréntah dina agama jeung nagara…tah kitu pigeusaneun manusa anu pinuh karumasaan, sanajan jeung séjén bangsa sabab tunggal ti Adam a.s.”
Kang Asep kemudian menyimpulkan tiga hal penting dari dasar-dasar yang ditancapkan Abah Sepuh yang kemudian dikembangkan secara utuh oleh Abah Anom: tarekat, kesundaan, dan keindonesiaan. Dalam amatan Kang Asep, Abah Sepuh dan Abah Anom merupakan guru tarekat yang amat memperhatikan budaya lokal kesundaan. Pesan tarekat yang universal dirumuskan dalam bahasa dan budaya Sunda. Di tangan dua Abah ini tarekat menjadi sangat kental bercorak kultur lokal (Sunda).
Hasan Mustapa
Tentang beliau secara khusus sebetulnya saya pernah menstatuskannya di Facebook. Yaitu ketika saya mengulas buku Kang Prof Jajang Arohmana: Membekap Halilintar; Polemik Wahdatul Wujud dalam Karya Haji Hasan Mustopa. Banyak irisan antara buku Membekap Halilintar “besutan” Kang Jajang dan ulasan khusus tantang Hasan Mustapa dalam buku Jatiniskala karya ciamik Kang Asep ini.
Kang Asep menyebut Hasan Mustapa sebagai manusia soliter. Manusia soliter adalah kebalikan manusia solider. Yang disebut terakhir memiliki kecakapan menghimpun jamaah, membentuk ormas, atau menggiring massa untuk kepentingan tertentu. Hasan Mustapa disebut soliter antara lain karena tidak berminat “ngamuridkeun”, atau mendirikan pesantren, padepokan, atau jadi mursyid sebuah tarekat. Manusia soliter mengalami ekstase pencapaian ruhaniahnya tidak dalam kerumunan, melainkan pada perenungan; dalam kesendirian. Lebih memilih kontemplasi ketimbang mobilisasi.
Sebagai manusia soliter, Hasan Mustapa tidak puas dengan satu maqam penghayatan dan pengetahuan saja, melainkan terus melakukan pergerakan ruhaniah serta pengembaraan pemikiran. Laku yang menjadi ilmu dan ilmu yang mewujud laku. Perjalanannya dibiarkan tidak tiba pada kata final. Lampah spiritual dan segenap lalakon hidupnya nampaknya dibiarkan terus berada pada “koma”, bukan “titik”. Tidak berhenti menyeimbangkan kesadaran material buana pancatengah, tarikan niskala, dan pesona menggetarkan JATINISKALA.
——-
Buku ini, dan juga dua buku Kang Asep sebelumnya (Sufisme Sunda dan Kitab Tritangtu), sejatinya sedang menunjukkan bahwa ada tiga pilar terpancang dalam lelaku, tingkah-polah dan kebudayaan masyarakat (manusia) Sunda: keislaman (tarekat-sufisme-spiritualitas), kesundaan dan keindonesiaan. Setiap upaya membenturkan ketiganya, hemat saya, merupakan tindakan gegabah yang menunjukkan kebutaan pelakunya ihwal sejarah masyarakat dan budaya Sunda, serta bagaimana Islam sejak awal tidak punya “masalah” dengan masyarakat dan budaya yang berada di “ceruk” alam yang oleh MAW Brouwer keindahannya digambarkan sebagai “tercipta ketika Tuhan sedang tersenyum” itu.

